Ingin Ummi Menunggu

"De Olin ingin, ummi menunggu de Olin di depan kelas sampai de Olin keluar lalu kita pulang bersama. De Olin ingin, ummi ada disini menunggu de Olin." ucapnya pelan saat kami memilib bepe-bepean di warung teh Siti yang tepat berada di dekat lapang sekolahnya.

"Hmm...de Olin ingin ummi menunggu ade disana?" jari telunjukku menunjuk salah satu sudut yang terdapat di teras depan kelasnya. Dia mengangguk mengiyakan.

Ingatanku melayang pada tumpukan cucian yang baru setengahnya masuk area jemuran, setengahnya lagi bahkan masih berada di keranjang cucian dan belum tersentuh air dan detergen. 
Kutatap matanya yang menyiratkan harapan agar aku bisa menemaninya meski sekedar menunggu diluar ruangan.

"Cucian masih bisa menunggu sampai olin pulang, tapi hari ini yang sedang olin lalui tak mungkin terulang." fikirku.

Aku pun mengangguk menyetujui permintaannya. Dia memelukku semakin erat, mencium kedua pipi dan keningku sambil berulangkali mengucapkan terima kasih dan cintanya , "terima kasih ummi, i love you...i love you soooo much. De Olin bersyukur memiliki ibu seperti ummi."

Ucapannya membuat airmataku berurai kembali, "kenapa ummi menangis?" dia terlihat khawatir. 

Seringkali seorang ibu, kesulitan mengendalikan hati dan airmata cintanya... Hee..

"Ummi bahagia diberi anugerah putri sholihah. Alhamdulillah...hatur nuhun sudah menjadi putri ummi!"

Dan saya membayangkan bagaimana kecewanya dia jika saya menolak keinginannya untuk menemaninya.
2 jam waktu yang tidak lama, tapi ia kan menjadi waktu-waktu yang dirindukan kembali.

#olindanummi #olin_6year
Hari kedua.

18 juli 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kelas 3