Kurang Suka Keramaian

Dia yang kurang suka keramaian (same with me :D ) mulai memperlihatkan kekurang nyamanan sejak sampai disana. Di mulai dari berlinang air mata sambil bersembunyi di balik kerudung ku.. Merajuk minta bertemu kakak-kakaknya, hingga akhirnya menangis keras meski tidak kalah keras dari suara yang keluar dari sound system (sound system nya bagus.. ).

"Neng, murangkalihna kunaon?" seorang ibu berkerudung hitam yang duduk di depan kami terlihat sangat berempati ketika bertanya.

Olin menutup mulutku dengan kedua tangan mungilnya, memintaku untuk tidak bicara. 
Ibu berkerudung hitam yang usianya saya perkirakan seusia teteh sulung saya sepertinya memahami hal itu... 
"Murangkalih nyandak ujianna nyalira-nyalira. Sing sabar wae neng!" ucapnya. Saya tersenyum dan mengangguk mengiyakan sambil mengucapkan 'insyaAllah' di hati. Olin sedang tidak ingin umminya bicara :D

Mengalah pada anak? Ada saatnya kita mengalah, ada saatnya tegas... Ada saatnya lembut, ada saatnya no kompromi :D

Mengenali alasan anak menangis kemudian berempati padanya memungkinkan hati, lisan dan tangan kita terkondisi untuk tetap tenang tak terpengaruh untuk melakukan sesuatu 'di luar kontrol'.

Ada saat dimana anak membutuhkan tangis untuk 'keluar' dari 'masalahnya' dan membuat hatinya kembali kondusif. Dan saat itu, pengertian dan penerimaan kita sebagai ibunya sangat penting artinya bagi mereka.

Terima mereka, fahami perasaan mereka, dan bersabarlah atas mereka ... !!

Sekitar 1,5 jam kemudian, Olin mulai balik memelukku sangat erat. 

"Kepalaku serasa mau pecah. Disini rame." dan dia mulai menjelaskan alasannya menangis selama sekian waktu sebelumnya. Tentu saja anak-anak belum bisa memahami 'bising' yang berkecamuk dihati kita yang menunggunya menyelesaikan tangisnya di antara suara riuh orang-orang dan suara dari sound system :D

"De Olin ingin menggambar, menulis dan mewarnai di buku ummi." 
Sebelum berangkat, saya menyiapkan buku tulis, buku mewarnai, buku gambar, potlot, pensil warna, penghapus, lem dan gunting yang di persiapkan untuk mengantisipasi kemungkinan dia jenuh. Dan dia memilih buku tulis saya dan pulpen untuk menggambar.

Finally, Alhamdulillah... Menjelang akhir-akhir acara, dia mulai bisa menikmati tabligh Akbar di #ppi32 Sabtu beberapa hari yang lalu dengan caranya sendiri, dengan buku tulis, pulpen, imajinasinya serta pandangan mataku yang harus tertuju padanya.

#olin_6year

21 maret 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kelas 3