Saat Marah

"Ade kenapa marah? Ade marah sama ummi? Apa ada sikap atau ucapan ummi yang menyakiti perasaan ade?" dia tak bergeming dengan wajah ditekuk, mata menyipit, bibir tanpa senyum dan dua tangan disilang di dada, ekspresi marah yang masih sama sedari usianya 3tahunan.

Tak ada suara sedikitpun darinya. Sepertinya dia sedang sangat marah, dan saya masih belum menyadari alasan kemarahan dia.

Mengajaknya mengenali emosinya untuk kemudian berdamai dengan rasa seringkali membutuhkan waktu yang sangat lama, memerlukan fokus yang hanya untuk dia, dan jauh dari pandangan orang lain yang biasanya justru membuat emosi marah atau tangisnya membludak.

Karena itu, sesampainya kami di madrasah Al Furqon, saya peluk dia dan membawa dia duduk berdua menjauh dari jangkauan mata ataupun pendengaran teman-temannya. 1 jam lebih tak juga membuat dia bicara...hingga kemudian ku bawa dia kedalam gendongan, saya usap punggung dan kepalanya sampai dia tertidur...

"Bagaimana kalau hari ini kita pulang saja? Sepertinya putri kecil ummi sangat mengantuk dan lelah. Besok kita main lagi disini!"
Dia mengangguk dan mulai terisak

"Ummi maaf ya!! De Olin minta maaf.. De Olin tadi merasa marah karena bla bla bla dst" dia mulai menyampaikan penyebab kemarahannya. Dia tidak pernah marah kecuali karena suatu alasan.... Dan menunggunya bicara memang membutuhkan waktu yang tidak sedikit, tapi itu lebih baik dibanding membiarkannya seolah tak terjadi apa-apa. Karena dengan begitu, dia akan belajar bershabar dan mencoba menjadi pendengar dikemudian hari.
Dia juga belajar menyampaikan gundahnya dalam bahasa yang baik, sampai akhirnya dia tahu langkah terbaik menghadapinya.

"Its ok, dear... Laa ba'sa bih. Ummi juga minta maaf karena membuatmu merasa tak enak."

#whenolinmarah
#day_3RA
#olin_5year

12 Januari 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kelas 3