Belajar dengan Origami

Sejumlah 5 lembar kertas origami senilai Rp 1000,- yang dia beli dari warung pak Haji Toto sore tadi berubah menjadi bentuk lingkaran berbagai ukuran.

Satu lidi ukuran panjang di potong-potong seukuran korek api dia simpan di papan ujian dekat potongan kertas origami dan buku tulisnya dengan dia yang terlihat fokus pada buku dan pulpennya. Dia biasanya menggunakan potlot, tapi malam ini dia lebih tertarik memakai pulpen.

"Biarkan dia belajar mencari solusi untuk masalahnya, ummi hanya perlu mendampingi dia tanpa intervensi dan semacamnya! Biarkan dia belajar dan menikmati prosesnya, menikmati perjuangannya. Ok!" saya yang bersiap turun tangan membantu akhirnya memilih memancing dia bercerita.

Bukan hal mudah untuk tidak mengulurkan tangan pada anak meski anak-anak tidak dalam kondisi membutuhkan 'uluran tangan' kita, ibunya. Tidak mudah, tidak semudah saat kita berbicara teori ataupun konsep ideal. 

Tidak mudah bukan berarti tidak boleh atau tidak mungkin. Dan kita akan membutuhkan stock kesabaran, ketulusan dan keistiqomahan untuk memilih menyiapkan generasi yang tangguh sejak dini.

Subhanalloh nak, ini prosesmu malam ini, salah satu dari sekian banyak jejak dari jejak-jejak kisahmu yang lain, de #olin_6year waktu belajar berhitung dengan metodenya sendiri. Didampingi ummi abi sambil menemani aa Umar yang kembali demam!

30 Juli 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kelas 3